spot_img
spot_img
spot_img
Selasa, Oktober 20, 2026
BerandaHeadlineUtang Bank Tembus Rp2,8 T, Perusahaan Kaesang Dililit Kredit Macet

Utang Bank Tembus Rp2,8 T, Perusahaan Kaesang Dililit Kredit Macet

- Advertisement -spot_img

Perseroan mengakui mengalami kendala modal kerja dan membutuhkan sekitar US$15 juta atau sekitar Rp269,1 miliar untuk menjalankan kegiatan operasional. Akibat keterbatasan tersebut, PMMP saat ini hanya mengoperasikan satu pabrik di Situbondo.

JAKARTA, Jakartamuda.id — Perusahaan milik Kaesang Pangarep, anak Eks Presiden Indonesia Joko Widodo, dikabarkan terlilit utang hingga triliunan rupiah. Perusahaan ini bernama PT Panca Mitra Multiperdana Tbk (PMMP) yang sebagian sahamnya dimiliki Kaesang.

PT PMMP dilaporkan menghadapi masalah kredit macet, dan mengajukan restrukturisasi pinjaman kepada sejumlah bank setelah menghadapi tekanan likuiditas dan keterbatasan modal kerja.

Baca Juga :  Pastikan UU Ketenagakerjaan Disahkan, Ribuan Buruh KSBSI Jakarta, Jabar dan Banten Geruduk DPR

Berdasarkan keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI), Kamis (2/7/2026), emiten pengolahan hasil perikanan ini memiliki kewajiban kredit kepada PT Bank Permata Tbk, dengan outstanding US$53,12 juta atau sekitar Rp953,4 miliar (kurs Rp17.948 per dolar AS), ditambah fasilitas sebesar Rp5,49 miliar.

Perseroan juga memiliki utang kepada PT Bank Central Asia Tbk sebesar US$40,29 juta atau sekitar Rp723 miliar, Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia sebesar US$30,71 juta atau sekitar Rp551,2 miliar, serta PT Bank SMBC Indonesia Tbk sebesar US$22,8 juta atau sekitar Rp409,1 miliar.

Baca Juga :  Kongres Ke-1 Serikat Buruh Migran KSBSI Tetapkan Yatini sebagai Ketua Umum

Selain itu, PMMP masih memiliki pinjaman kepada PT Bank Maspion Indonesia Tbk sebesar US$7,21 juta atau Rp129,4 miliar dan PT Bank Resona Perdania sebesar US$5,99 juta atau sekitar Rp107,5 miliar.

“Saldo tersebut di atas di luar hutang bunga,” tulis manajemen PMMP dalam keterbukaan informasi seperti dilansir CNN Indonesia, dikutip, Rabu (8/7/2026).

Perseroan mengakui mengalami kendala modal kerja dan membutuhkan sekitar US$15 juta atau sekitar Rp269,1 miliar untuk menjalankan kegiatan operasional. Akibat keterbatasan tersebut, PMMP saat ini hanya mengoperasikan satu pabrik di Situbondo. Untuk memenuhi permintaan ekspor, perusahaan membeli produk jadi dari perusahaan lain dengan skema pembayaran setelah hasil ekspor diterima.

Baca Juga :  5 Kasus Korupsi Menyeruak di Jakarta, Poros Rawamangun Desak Aparat Tangkap Pelaku

“Sementara ini perseroan membeli produk jadi dari perusahaan lain dengan pembayaran di belakang setelah hasil ekspor diterima oleh perseroan,” tulis manajemen.

Penurunan kapasitas produksi juga berdampak pada efisiensi tenaga kerja. Sejak 2024 hingga saat ini, PMMP telah melakukan pemutusan hubungan kerja terhadap 37 karyawan staf dan 79 pekerja harian. Selain itu, sebanyak 82 staf tercatat mengundurkan diri. (*/RED)

- Advertisement -spot_img
Terbaru
- Advertisement -spot_img
Rekomendasi
Berita Populer
- Advertisement -spot_img