spot_img
spot_img
spot_img
Rabu, Oktober 21, 2026
BerandaBirokrasi JakartaAir PAM Berubah Jadi ‘Air Got’, Jakarta Barometer Semprot PAM JAYA: Mending...

Air PAM Berubah Jadi ‘Air Got’, Jakarta Barometer Semprot PAM JAYA: Mending Urus Pipa Bocor Ketimbang Sibuk Kejar IPO!

- Advertisement -spot_img

​JAKARTAMUDA.ID — Alih-alih mengalirkan air bersih yang layak konsumsi bagi warga ibu kota, jaringan pipa PT PAM JAYA (Perseroda) justru kedapatan menyuplai air yang kondisinya mirip atau bahkan lebih keruh dari selokan depan rumah. Parahnya lagi, kebocoran fatal ini dibiarkan mangkrak hingga berbulan-bulan tanpa ada penanganan nyata dari manajemen.

​Kritik pedas ini dilayangkan langsung oleh Direktur Eksekutif Jakarta Barometer, Jim Lomen Sihombing, dalam keterangannya di Jakarta, Jumat (18/09/2026). Ia menilai karut-marut layanan dasar ini sudah berada di ambang batas toleransi dan mencederai rasa keadilan masyarakat luas.

​”Air bersih itu hak asasi dan kebutuhan fundamental warga yang dijamin negara. Sangat ironis dan memalukan ketika BUMD sekelas PAM JAYA justru membiarkan pipanya bocor berbulan-bulan hingga air got masuk ke jaringan warga, sementara pengaduan publik hanya dianggap angin lalu,” tegas Jim Lomen.

Baca Juga :  Kolaborasi Epik! Pemkot Jaktim & PT Antam Luncurkan 'Bank Sampah Pintar' di Pulogadung ​Jakarta Timur

​Kemarahan Jakarta Barometer bukan tanpa alasan. Berdasarkan temuan di lapangan, laporan resmi terkait kebocoran parah tersebut sejatinya sudah dilaporkan langsung kepada pihak manajemen PAM JAYA Pusat melalui seorang petugas bernama Gatra. Namun, alih-alih menurunkan tim darurat untuk memperbaikinya, respons yang diberikan justru lamban dan terkesan lepas tangan.

​Yang lebih memeras nalar, Jakarta Barometer mempertanyakan akuntabilitas dan kewarasan finansial dari manajemen PAM JAYA. Jika saluran pipa rusak dan dibiarkan bocor hingga berbulan-bulan, siapa sebenarnya pihak yang harus menanggung kerugian materil dari air yang terbuang sia-sia? Terlebih lagi, pelanggan tetap dipaksa menanggung beban biaya tagihan pemakaian untuk air kotor yang sama sekali tidak bisa digunakan.

​Di tengah tumpukan masalah pelayanan dasar yang kian akut, Jakarta Barometer justru menyoroti gelagat ambisius manajemen PAM JAYA yang tengah sibuk mempersiapkan langkah korporasi untuk melakukan Penawaran Umum Perdana Saham (Initial Public Offering / IPO) ke lantai bursa. Bagi Jakarta Barometer, rencana besar melantai di pasar modal ini terasa tidak masuk akal dan keluar dari fokus utama. Manajemen diingatkan agar tidak kehilangan akal sehat dengan mengejar target bisnis korporasi, sementara kewajiban moral untuk menghadirkan pipanisasi merata dan air bersih bagi rakyat kecil di perkampungan padat justru diabaikan.

Baca Juga :  Tarif Transjakarta Mau Dievaluasi? Amos Hutauruk: "Siap Dukung, Asal Subsidi Tepat Sasaran!"

​Jakarta Barometer merangkum tiga poin kegagalan fatal yang dilakukan oleh manajemen PAM JAYA saat ini. Pertama, krisis distribusi dan kualitas air bersih yang tidak merata, diperparah dengan jaringan pipa bobrok yang mencemari lingkungan warga akibat dibiarkan bocor berbulan-bulan tanpa penanganan. Kedua, buruknya layanan pengaduan konsumen yang mandek di tingkat pusat, ditandai dengan tidak diresponsnya aduan darurat oleh pihak manajemen seperti Gatra serta tetap dibebankannya tagihan kepada pelanggan atas air yang tidak bisa digunakan. Ketiga, ambisi korporasi yang salah arah melalui wacana IPO, di mana jajaran pengambil kebijakan tampak lebih bernafsu mengejar target pasar modal ketimbang menuntaskan tanggung jawab sosial dan pelayanan dasar di ibu kota.

Baca Juga :  Pramono: Proyek LRT ke Dukuh Atas Ditargetkan Rampung Akhir 2028

​Menyikapi situasi yang sudah darurat ini, Jakarta Barometer secara tegas mendesak Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, untuk tidak tinggal diam. Gubernur dituntut segera mengambil langkah intervensi radikal berupa evaluasi total serta mencopot jajaran Direksi dan Dewan Pengawas (Dewas) PAM JAYA selaku para pengambil kebijakan manajemen yang terbukti gagal total.

​Jakarta Barometer memastikan akan terus mengawal skandal pelayanan publik ini hingga hak-hak dasar warga Jakarta atas air bersih benar-benar dipulihkan secara bermartabat.(jm).

- Advertisement -spot_img
Terbaru
- Advertisement -spot_img
Rekomendasi
Berita Populer
- Advertisement -spot_img