spot_img
spot_img
spot_img
Rabu, Agustus 19, 2026
BerandaGaya HidupEventBuntut Baca Quran di Kasih Hadiah Sebotol Miras, Sejumlah Pihak Kini Dipidanakan

Buntut Baca Quran di Kasih Hadiah Sebotol Miras, Sejumlah Pihak Kini Dipidanakan

- Advertisement -spot_img

Laporan pidana tersebut bukan untuk mengambil kesimpulan mengenai pihak yang bersalah, melainkan memberikan ruang kepada aparat penegak hukum untuk menguji fakta dan bukti yang ada.

JAKARTA, Jakartamuda.id – Aksi konyol dalam festival musik ‘The Sounds Project’ di Ancol, Jakarta Utara dengan kegiatan promosi minuman keras (miras) berkedok tantangan hafalan Al-Qur’an menuai kecaman dan kemarahan publik. Aksi konyol itu telah memicu laporan pidana yang diajukan seorang warga bernama Abraham dengan sangkaan penistaan agama.

Diketahui, dalam video viral, pengunjung merekam momen sebuah booth produk miras yang menggelar tantangan (challenge) hafalan salah satu surah dalam kitab suci Al-Qur’an yakni Ad-Duha bagi pengunjung, dengan hadiah sebotol miras yang diduga dipromosikan.

Abraham selaku Pelapor meminta aparat penegak hukum melakukan pemeriksaan secara menyeluruh terhadap pihak-pihak yang berkaitan dengan kegiatan yang menjadi objek laporan di acara Festival Musik ‘The Sounds Project’, di Kawasan Ancol, Pademangan, Jakarta Utara.

Permintaan tersebut disampaikan setelah Abraham membuat laporan ke Sentra Pelayanan Kepolisian Terpadu (SPKT) Polda Metro Jaya terkait dugaan tindak pidana penistaan agama sebagaimana dimaksud dalam Pasal 156a KUHP. Berdasarkan Surat Tanda Penerimaan Laporan (STTLP) Nomor: STTLP/B/5918/VIII/2026/SPKT/POLDA METRO JAYA, laporan tersebut diterima Polda Metro Jaya pada 11 Agustus 2026 pukul 19.05 WIB.

Dalam dokumen laporan disebutkan, peristiwa yang dipersoalkan terjadi pada 9 Agustus 2026. Abraham menerangkan bahwa dirinya melihat video yang beredar di media sosial Instagram dan media online.

Dalam uraian laporan tersebut, video dimaksud memperlihatkan pembawa acara atau MC melakukan tantangan kepada pengunjung yang disebut akan mendapatkan hadiah berupa satu botol minuman keras apabila mampu melafalkan Surat Ad-Dhuha.

Baca Juga :  Kongres Ke-1 Serikat Buruh Migran KSBSI Tetapkan Yatini sebagai Ketua Umum

Keberatan, Umat Islam Dirugikan

Abraham mengatakan, keputusan membuat laporan ke kepolisian dilakukan karena dirinya merasa keberatan dengan materi dalam video tersebut.

“Saya membuat laporan ini karena saya merasa keberatan dan dirugikan dengan adanya kejadian tersebut. Bagi saya, ayat atau surat dalam Al-Qur’an merupakan bagian dari ajaran agama yang harus dihormati dan tidak semestinya dijadikan bagian dari sebuah tantangan yang dikaitkan dengan pemberian minuman keras,” ujar Abraham dalam keterangan resmi yang diterima redaksi, Rabu (12/8/2026).

Menurut dia, laporan pidana tersebut bukan untuk mengambil kesimpulan mengenai pihak yang bersalah, melainkan memberikan ruang kepada aparat penegak hukum untuk menguji fakta dan bukti yang ada.

“Saya menyerahkan sepenuhnya prosesnya kepada aparat penegak hukum. Saya berharap semua pihak yang berkaitan dengan kegiatan tersebut dapat dipanggil dan dimintai keterangan,” katanya.

Minta Yang Terlibat Diperiksa

Sejalan dengan laporan tersebut, Panji Keadilan Umat melalui Abraham meminta aparat berwenang memanggil dan memeriksa manajemen Newport, event organizer (EO) atau penyelenggara acara, serta produsen minuman Newport.

Abraham juga berharap pemeriksaan dilakukan secara menyeluruh untuk mengetahui bagaimana kegiatan tersebut dirancang dan siapa saja yang memiliki kewenangan dalam pelaksanaannya.

“Termasuk manajemen Newport, penyelenggara atau EO, serta pihak produsen minuman Newport, sehingga persoalan ini menjadi terang dan tidak menimbulkan kesimpangsiuran,” tegas Abraham.

Ia menambahkan, dirinya tidak ingin mengambil kesimpulan sendiri mengenai siapa yang bertanggung jawab atas peristiwa tersebut. Menurutnya, hal itu merupakan kewenangan aparat penegak hukum setelah melakukan pemeriksaan terhadap saksi maupun pihak-pihak terkait.

Baca Juga :  Pakai Jersey 'Keramat', Argentina Taklukan Inggris 2-1

“Saya berharap laporan ini diproses secara objektif. Biarkan aparat yang melakukan penyelidikan dan penyidikan untuk mencari fakta sebenarnya. Yang saya inginkan adalah kejelasan dan penghormatan terhadap nilai-nilai agama,” pungkasnya.

Minta Polisi Dalami Peristiwa

Panji Keadilan Umat menilai pemeriksaan terhadap pihak-pihak terkait diperlukan agar aparat dapat memperoleh gambaran utuh mengenai rangkaian kegiatan, termasuk konsep acara, peran pembawa acara, pihak penyelenggara, serta keterlibatan produk yang disebut dalam laporan.

Namun demikian, status perkara tersebut masih berupa laporan dugaan. Belum ada kesimpulan hukum mengenai ada atau tidaknya tindak pidana maupun pihak yang bertanggung jawab. Penentuan tersebut menjadi kewenangan aparat penegak hukum berdasarkan hasil penyelidikan, penyidikan, dan alat bukti yang diperoleh.

Permintaan Maaf

Sementara itu, mengutip sejumlah pemberitaan, disebutkan, penyelenggara event The Sounds Project angkat bicara. Melalui unggahan di akun media sosial Instagram resmi The Sounds Project, manajemen mengaku ikut marah dan kecewa dengan prilaku menjadikan agama (Al Qur’an) sebagai bahan tantangan.

“Kami sebagai penyelenggara acara turut merasa marah, kecewa, dan mengecam perilaku tersebut. Kami tidak pernah, dan tidak akan pernah, membenarkan perilaku yang menjadikan agama sebagai bahan challenge atau promosi produk dalam bentuk apa pun,” tulis pernyataan resmi yang dikutip dari akun Instagram The Sounds Project.

Namun demikian, ia menegaskan, bahwa kejadian tersebut sepenuhnya di luar arahan dan persetujuan The Sounds Project. “Kami tegaskan bahwa kejadian tersebut sepenuhnya di luar arahan, persetujuan, dan kendali kami sebagai penyelenggara acara,” tandasnya.

Sementara itu, pemandu acara atau MC di booth Newport dalam acara The Sounds Project juga telah meminta maaf secara terbuka. Hal itu disampaikan lewat akun media sosial Threads, aqueer_, yang dimiliki Revnaldo Ega.

Baca Juga :  Ketua Korps Alumni KNPI Jakarta Timur Ajak Masyarakat Jaga Jakarta Tetap Aman Nyaman

“Saya Ega, selaku MC booth Newport pada Minggu, 9 Agustus 2026, memohon maaf atas kejadian yang terjadi saat acara berlangsung,” kata dia.

“Kejadian tersebut merupakan aksi spontan audiens dan tidak terkait dengan pihak Newport. Saya mengakui kelalaian dalam mengendalikan situasi dan menjadikannya pembelajaran untuk lebih sigap dan bertanggung jawab ke depannya,” tambahnya.

Kemudian, manajemen Newport juga menyampaikan permintaan maaf atas kegaduhan buntut kasus promosi miras tersebut. “Sehubungan dengan beredarnya video di booth Newport pada gelaran festival musik The Sounds Project, Minggu (9/8/2026), Newport menyampaikan permohonan maaf kepada seluruh umat Muslim, tokoh agama, dan seluruh masyarakat Indonesia atas kejadian yang menimbulkan ketidaknyamanan, rasa terluka, dan kegaduhan yang terjadi,” kata Direktur Newport, Handoko Sasongko dalam keterangannya, Rabu (11/8/2026).

Handoko menyatakan bahwa aktivitas itu bukan merupakan program, konsep promosi, challenge, maupun arahan yang dibuat atau direncanakan oleh Newport. Ia pun mengklaim aktivitas itu muncul secara spontan dari pengunjung yang berada di lokasi.

“Kami menyesali adanya kelalaian dalam pengawasan di lapangan, sehingga tindakan yang tidak sesuai dengan nilai-nilai agama, keyakinan, budaya serta adat istiadat yang dijunjung oleh masyarakat dapat terjadi,” ucap dia.

Hingga berita ini diturunkan, Redaksi masih berupaya mendapatkan konfirmasi dari manajemen Newport, pihak EO atau penyelenggara acara, serta produsen minuman Newport terkait dengan laporan pidana dan tuntutan pemeriksaan tersebut. (*/RED)

 

- Advertisement -spot_img
Terbaru
- Advertisement -spot_img
Rekomendasi
Berita Populer
- Advertisement -spot_img